Bercermin

Saat kutatap wajahku di cermin kamarku, kudapati diriku berdiri sendiri dalam gelap. Padahal tak kupadamkan lampu kamar ketika aku terbangun dari tidur dipagi ini. Lama kupandangi aku mulai menemukan sederet tapak langkahku yang telah lalu. Kenangan yang kulihat silih berganti membuat diriku beberapa kali mendesah sedih. Ternyata lebih banyak palsuku disana, pantas banyak komentar miring mulai menerpa diriku. Namun bagaimana aku bisa mengembalikan masa lalu itu. Aku pun menangisi diriku. Setitik air mata demi setitik air mata kulihat mengalir di pipiku yang telah mulai berkerut menua. Aku tak ingin dihari hari perpisahanku nanti akan banyak meninggalkan kenangan dusta, atau cerita buruk tentang diriku. Apakah kepalsuan pada diriku ini mereka juga melihatnya sehingga gunjingan dibelakangku sampai sayup sayup terbawa angin ke telingaku ?

Aku melihat pada anakku. Ada perasaan lebih sedih saat itu. Bagaimana anak-anakku dapat menerima semuanya tanpa harus membebani kehidupannya ? Dengan kasih sayangku selalu kutegur mereka bila melakukan hal buruk. Bahkan aku masih teringat tidak hanya untuk anakku. Banyak nasihat kuberikan kepada kawan kawanku bila memang bisa kuberikan. Tapi mengapa mereka tidak mau menasihatiku bila aku melakukan kesalahan ? Sehingga setelah menggunung baru pergunjingan ini aku dengar. Tak adakah yang menyayangiku sehingga membiarkanku berbuat salah.

download

Aku melihat ke arah cerminku dan aku melihat bayangan lampu di kamarku. Hey… bukankah tadi gelap, sekarang lampu itu mulai nampak dan semakin terang. Dan aku melihat diriku. Bayangan gelap diriku mulai berubah. Mulai menampilkan warnanya, warna kain baju dan sarung yang kukenakan. Apakah makna lampu itu bagiku ?

Aku terus mencari dan mencari. Namun tak kutemukan meski telah kutengok kedalam isi hatiku sendiri. Begitu gelapnya hati ini sehingga aku tak dapat menemukan apapun disana. Kembali aku menitikkan air mata kesedihan. Di hari hari tua ku ini mengapa baru aku melihat diriku yang gelap. Sehingga untuk melihat diriku sendiri aku tak bisa. Aku hanya bisa melihat diriku dari omongan miring sahabat dan kawan-kawanku. Begitu buruknyakah diriku untuk mereka ?

Segera kutangkupkan kedua telapak tanganku diwajahku. Aku tak ingin melihat diriku bercermin lagi. Namun langkah masa lalu itu seolah tak mau berhenti berjalan dalam anganku. Dan aku makin sedih dalam keterpurukan di masa tuaku ini. Ketika rambut telah memutih baru kusadari bahwa begitu buruknya diriku.

Kawan, maafkan aku yang tak pernah bisa menyenangkan dirimu. Maafkan aku yang tak bisa memenuhi semua keinginanmu. Maafkan aku yang telah menyakiti dirimu melalui mulutku, melalui tingkah lakuku, melalui tanganku, dan melalui semua yang pernah kulakukan. Mungkin inilah pembalasan untukku menyambut putihnya rambutku dan mengeriputnya kulitku.

Bila kesalahan kerja aku bisa langsung ditegur oleh atasanku walau dengan teguran yang paling keras sekalipun. Aku pernah mengalaminya dan aku justru berterima kasih untuk itu, karena selanjutnya aku mengetahui kesalahanku. Bila denganmu kawan, mengapa engkau diam dan lebih senang membiarkanku terpuruk dalam kesalahan dan dosaku.

Terima kasih cermin telah menyadarkanku. Cobalah selalu menatap dirimu lama di cermin, dan kau akan menemukan dirimu yang lain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *