Keuntungan Bisnis

Siapa yang tak ingin memiliki usaha (bisnis) meskipun kita sudah bekerja sekalipun. Bisnis merupakan naluri yang dimiliki oleh semua orang, hanya saja bagaimana menangkap peluang yang ada agar menjadi bisnis yang menjanjikan, mungkin  tidak semua orang mampu melakukannya.

Hitungan bisnis sederhana harga jual – harga perolehan haruslah positif. Bagaimana kalau negatif ? Itulah mungkin yang kebanyakan orang mendefinisikannya sebagai bisnis yang merugi. Lalu bagaimana agar positif ? Mudah saja jual produk kita diatas harga beli. Ribuan trik agar harga jual mampu mencapai diatas harga beli. Lho bukankah sederhana ? Tinggal pasang bandrol saja harga jual diatas harga beli, selesai.

Jual-Beli-upload

Mungkin tidak semudah itu membandrol harga, disinilah seni ekonomi berperan. Harga jual yang kita bandrol diatas harga beli secara semena – mena bukanlah jalan yang selalu dibenarkan, dalam arti kalau kita menghendaki keuntungan dalam bisnis agar positif. Karena kadang ketika membandrol harga kita harus mampu menganalisa harga yang kita tetapkan. Kadang bahkan harus melirik kanan kiri produk serupa atau produk substitusi. Melirik juga kebiasaan masyarakat sekitar terhadap produk yang kita jual. Melirik juga kebijakan pemerintah yang mengatur produk yang kita jual. Analisa yang dilakukan secara jeli tersebut semata – mata hanya untuk memperoleh keuntungan bisnis. Bahkan sebagian orang harus belajar hingga S1, S2 atau S3 untuk mendukung usahanya. Untuk sebuah perusahaan bonafid bahkan mempekerjakan satu batalyon analis bisnis agar usahanya tak merugi.

Buat usaha warungan, rumus dan analisa sederhana diawal cerita lebih banyak diterapkan. Hidup tidak serumit itu, bahkan termasuk untuk mengelola usaha sekalipun. Kadang terlalu protektif terhadap keuntungan bisnis, menjadikan kita susah memperoleh keuntungan. Cost menjadi terlalu besar hanya untuk pekerjaan analisa. Jadi bagaimana sebaiknya ?

Saya sempat membaca sebuah cerita di jaman nabi, bahkan cerita bisnis yang dikelola pada saat itu. Perhitungannya sederhana dan tidak membutuhkan perhitungan menggunakan super computer seperti sekarang ini, atau bahkan satu batalyon analis usaha. Bagaimana Usman bin Affan sukses menjalankan usahanya patut menjadi inspirasi bagi kita semua.

Keuntungan bisnis bagi Beliau selalu diukur dalam parameter keuntungan di akhirat. Dan luar biasa hasilnya, bahkan kerajaan Arab Saudi hingga kini masih mengelola bisnis yang dirintis oleh Beliau. Perusahaan yang diwakafkan ke negara dikelola dengan baik, keuntungan selalu dibagikan untuk menafkahi hidup fakir miskin hingga kini dan sebagian dikelola untuk memperbesar usahanya. Ya kunci usaha yang dirintis oleh beliau adalah PAHALA.

Jadi manakala kita berbisnis, niatkanlah usaha itu untuk memperoleh pahala. Keuntungan dalam wujud kelebihan hitungan harga beli dijadikannya modal untuk memperbesar PAHALA. Manakala harga jual tidaklah bagus dan bahkan harus diturunkan hingga nol, asalkan masih positif dalam PAHALA, percayalah bahwa usaha kita tidak akan gulung tikar dan kita menjadi bangkrut karenanya. Teknik inilah yang dalam ekonomi modern dinamakan biaya promosi. Pemberian sample produk agar pelanggan percaya, sudah dilakukan secara alami oleh pelaku bisnis dijaman nabi. Bahkan untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, tidak sedikit pebisnis memberikan jasa layanan tambahan yang begitu besar tanpa biaya sekalipun. Dan rumus itulah yang seyogyanya diterapkan dalam usaha agar kita memperoleh keuntungan bisnis. Perlu dicatat disini bahwa keuntungan bisnis tidaklah harus selalu berwujud kelebihan pembayaran harga jual dari harga beli, namun menghidupi sejumlah karyawan atau membuat orang lain bahagia menggunakan produk kita, mungkin itulah salah satu wujud keuntungan bisnis. Bagaimana dengan bisnis / usahamu ???

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *