Pendidikan Moral

Saya masih ingat 35 tahun yang lalu saat masih sekolah dasar ada sebuah mata pelajaran namanya Pendidikan Moral Pancasila. Bahkan mata pelajaran tersebut berlanjut hingga SMP bahkan SMA. Meski kemudian nama mata pelajaran tersebut berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Ada yang hilang dalam kurikulum pendidikan nasional menurut hemat saya. Ya, berkurangnya pendidikan moral. Mungkin inilah yang kemudian menyebabkan penurunan secara signifikan moralitas bangsa kita. Meski tidak sedikit banyak penyelenggara pendidikan khususnya yang berlatar belakang keagamaan mencoba menjadi solusi kekurangan tersebut, namun secara umum terlalu minim. Bahkan segala upaya yang bercampur aduk untuk mengentaskan masalah moral menjadi sia-sia. Bagaimana mungkin memperbaiki moralitas apabila dua hal yang bertolak belakang selalu hadir dihadapan kita. Contoh kasus sederhana masalah seragam sekolah, bagi sekolah tertentu menetapkan untuk seragam putri penggunaan rok harus dibawah lutut, sementara sekolah lain tidak mempermasalahkan meski diatas lutut. Apabila dua siswi berbeda naik kendaraan umum bersama, tentu ada pandangan rancu bagi setiap orang yang melihatnya. Contoh lain bahwa di kota tertentu dilarang masalah minumum beralkohol namun di kota lain bahkan diberikan aturan penjualan dan penggunaannya. Bila dua orang  yang berasal dari dua kota tersebut bertemu tentu akan terjadi kerancuan pandangan. Moralitas yang dibangun disatu sisi akan hancur oleh sisi yang lain.

Untuk itu perlunya pendidikan moral secara menyeluruh, bila perlu dibuatkan SNI-nya (Standard Nasional Indonesia) terhadap moralitas masyarakat Indonesia. Beranikah pemerintah memberlakukan uji moralitas bagi masyarakat yang menghendaki layanan tertentu kepada pemerintah ? Meski kondisi dewasa ini sebagian sudah inline terhadap masalah tersebut. Sebut saja, untuk memperoleh Surat Ijin Mengemudi (SIM), saya melihat konten test sebagian telah mengusung masalah moralitas meski dibatasi pada masalah berlalulintas.

Sudah saatnya pendidikan nasional mempertimbangkan perubahan kurikulum dan sistem pendidikan, agar Indonesia bisa tampil berbeda. Misal pendidikan dasar secara kurikulum ditekankan pada pendidikan moral setelah itu barulah pendidikan keilmuan mulai dikembangkan, disamping memang sudah sinergi dengan perkembangan fungsi otaknya. Meski pendidikan meningkat namun kontrol terhadap pengembangan moral ditingkat pendidikan lanjut harus tetap disinkronkan. Dan pada tingkat pendidikan tinggi diberikan satu semester khusus untuk pengulangan pendidikan moral. Mungkin akan sangat mengena apabila penentuan kelulusan siswa didasarkan atas uji moralitasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *