Mimpi 3

Hujan turun rintik – rintik pada siang hari yang cerah, namun petir menggelegar menakutkan siapa saja yang tengah asyik menekuni layar komputer di gedung pusat pelayanan ST3 Telkom Purwokerto. Nampak segerombolan mahasiswa dan mahasiswi berebut masuk ke ruang pelayanan. Mungkin ingin berlindung dari petir yang menakutinya. Meskipun demikian, petugas customer service secara reflek berdiri dan mulai mengembangkan senyum ramahnya. Petir sesaat hilang pengaruhnya ketika senyuman itu terkembang. Ada rasa sejuk dan nyaman bagi siapa saja yang dihadapannya. Apalagi kemudian suara merdunya menyambut para mahasiswa.

“Selamat siang, dengan saya Ati, ada yang dapat kami bantu ?”

Sebentar para mahasiswa tersebut nampak saling pandang. Terlihat bahwa sorot mata mereka tengah melakukan voting, karena lima pasang mata dari enam pasang mata nampak menatap tajam ke satu orang teman mereka.

“Okey – okey saya yang nanya ” gerutu mahasiswa yang divonis untuk mewakili mereka.

“Begini mba, emmpp…”mahasiswa tersebut memulai pertanyaannya setelah melangkah maju lebih dekat.

“Silakan duduk terlebih dahulu, dan mohon untuk mengisi form berikut ” ucap mba Ati antusias seraya menyodorkan sebuah pc tablet yang telah menampilkan sebuah formulir.

Mahasiswa itu kemudian duduk dan mulai sibuk mengisi formulir yang diterimanya. Sementara teman – teman mereka kemudian memilih deretan kursi tunggu disamping kanan mereka.

“Sudah mba ”

“Terima kasih, permasalahan kaliah telah kami sampaikan kepada pihak yang menanginya langsung. Kebetulan petugasnya tengah berada di luar kota. Untuk itu kalian diminta menghadap petugas secara virtual. Silakan kalian masuk ke ruang satu untuk membahas masalah tersebut lebih lanjut. Adakah layanan lain yang ingin disampaikan ?”

“Terima kasih mba, itu dulu saja ”

Mahasiswa tersebut kemudian berdiri dan memanggil teman – temannya untuk masuk ke ruang satu yang berada disisi kiri ruang pelayanan. Belum juga mereka menyentuh handle pintu, nampak pintu telah terbuka, dan seorang wanita yang mengenakan seragam customer service nampak menyambut mereka.

“Selamat siang, silakan masuk dan duduk pada kursi paling depan ” ucapnya seraya mengembangkan senyum ramahnya. “Kami akan langsung menghubungkan dengan Supervisor Kemahasiswaan dalam 1 menit”

Ruang konferensi yang mereka masuki nampak anggun dan klasik. Sebagian perabot terbuat dari bahan kayu yang bagus, serta karpet merah menutup seluruh lantai. Di bagian atas nampak sebuah proyektor yang telah menyala dan memancarkan cahaya proyeksinya ke layar dihadapannya. Lampu di ruangan cukup banyak, namun yang menyala beberapa lampu saja yang cukup redup.

Sementara sebuah suara dari sounds system terdengar empuk mempersilakan setiap mahasiswa untuk mengenakan headset  yang tersedia di kursi masing – masing.

Proses koneksi tersambung, dan di layar nampak Supervisor Kemahasiswaan tampil. Backgroundnya cukup jelas menggambarkan bahwa beliau tengah duduk pada sebuah kursi di sebuah kereta api.

“Halo semuanya, selamat siang ?” terdengar sahutan dari layar.

Serempak mahasiswa tersebut membalas salam. Dan Supervisor Kemahasiswaan terdengar melanjutkan ucapannya.

“Saya sudah membaca keluhan kalian, dan secara prinsip untuk pelaksanaan PKL yang menyeberang pada agenda perkuliahan dapat disetujui. Saya sudah berkoordinasi dengan pihak BAAK serta dosen wali kalian barusan. Surat dispensasi sudah dipersiapkan di meja resepsionis dan bisa diambil setelah ini. Apakah ada yang ingin disampaikan lagi ?”

“Ada pak…” ucap pimpinan perwakilan.

“Silakan, mengenai apa ?”

“Kami mohon dukungan dari institusi untuk masalah transportasinya pak. Karena perusahaan tempat PKL mewajibkan kami memiliki transportasi sendiri, ini bagaimana ya pak ?”

“Baik, saya tidak bisa memutuskan masalah tersebut, namun saat ini langsung saya hubungi bagian logistiknya. ”

konfrensi

Dan benar saja saat itu pula tampilan layar berubah. Gambarnya terbagi menjadi dua, satu masih menampilkan supervisor kemahasiswaan dan satunya nampak pak Putra selaku supervisor logistik. Background tampilan yang kedua terlihat beliau duduk di ruang kantornya. Begitu tersambung nampak supervisor logistik dengan cepat mengucapkan salam.

“Bagaimana ini, apa yang kalian inginkan ?” tanyanya lebih lanjut.

Setelah diskusi lebih jauh, supervisor logistik memberikan solusi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Dan konverensi pun selesai. Mereka nampak puas dengan pelayanan yang diberikan pihak kampus yang memang sarat dengan teknologi telematika. Dan yang pasti saat itu juga permasalahan clear.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *