Melik Sethithik Nggendong Lali

Dua tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 Januari 2014 merupakan kenangan saya yang tak terlupakan. Hari itu minggu  kliwon merupakan minggu keluarga besar orang tua saya untuk menyelenggarakan silaturahmi rutin bulanan. Kebetulan saya sendiri sekeluarga tidak bisa ikut meski “giliran” tempat pelaksanaannya sesungguhnya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 200 m.

Seperti biasa bapak saya berangkat lebih awal dari anggota lainnya, ini merupakan pelajaran rutin yang ditunjukkan beliau kepada kami. Pandangan beliau adalah ingin bersalaman dengan semua anggota ketika datang. Saat itu beliau ceria menyambut anggota keluarga yang datang setelahnya. Senyum lebar mengembang ketika tangannya terulur menyambut jabatan hangat dari sanak keluarga. Dan acara bergulir hingga penghujung acara yaitu makan bersama sebelum kemudian berakhir.

Ada sendau gurau renyah yang masih saya ingat.

“Bagaimana kondisi jantungnya mbah ?” tanya mas Paridin ditengah-tengah kesibukkan beliau menyendok opor ayam di piringnya.

“Saya dengar dokter jantungnya di Margono sudah pindah lho ” lanjut beliau.

Bapak saya terlihat membungkukkan badannya ke arah mas Paridin.

“Sudah sehat total, besok saya sudah tidak perlu lagi minum obat jantung ” jawab bapak saya disusul ketawanya yang renyah.

Dan acara pun selesai dengan diakhir acara kembali bersalaman. Bapak saya terlihat gembira tiap saat menjabat tanggan anggota keluarganya. Jabatannya kencang dan sedikit lebih lama seraya memohon maaf apabila terdapat kesalahan beliau. Semua merasa berkesan ketika berjabat tangan dengan bapak.

Mungkin sudah ada yang dirasakan, sehabis sholat dhuhur bersama keluarga  beliau kemudian pulang dan tidur. Hingga kemudian adzan ashar berkumandang dari masjid samping rumah. Suaranya membangunkan bapak. Beliau langsung bergegas mengambil handuk untuk mandi sebelum berangkat ke masjid. Beberapa minggu terakhir biasa bapak yang mengumandangkan adzan dan bahkan merangkap menjadi imam. Karena memang untuk masjid samping rumah pada sore hari khususnya sholat Ashar jarang ada muadzin maupun imam yang bertugas, mungkin kesibukan bekerja.

Namun sore itu agak lama bapak berada di kamar mandi. Dan tiba – tiba kakak saya mendengar bapak beristighfar berkali – kali di dalam kamar mandi. Kakak pun cemas, berkali – kali dicoba memanggil bapak namun yang terdengar hanya istighfar. Sehingga kakak saya mencoba masuk ke kamar mandi melalui atap. Dan terlihat bapak terduduk dilantai kamar mandi dengan kondisi lemas.

26 Januari 2014 jam 17.00 di rumah sakit Geriatri beliau meninggal dunia.

SAMSUNG DIGIMAX A403
SAMSUNG DIGIMAX A403

Satu pelajaran yang sering beliau sampaikan kepada kami dan berulang pada setiap kesempatan adalah agar kami jangan sampai “Melik Sethihik Nggendong Lali”.

Bagi kebanyakan anak sekarang pasti akan sangat asing dengan istilah semacam itu. Bahasa jawa memang terlihat lebih susah dibandingkan dengan bahasa inggris untuk anak – anak sekarang. Kenapa bisa demikian ? Mungkin semua aspek lebih menonjolkan bahasa inggris dibandingkan bahasa jawa, sehingga seperti tersihir semua anak – anak sekarang lupa akan bahasanya sendiri.

Melik = Ingin memiliki

Sethithik = sedikit

Nggendong = menanggung beban di pundak atau menyebabkan

Lali = lupa diri

Maknanya secara umum jangan lah kita berhasrat atau berkeinginan barang sedikitpun kepada sesuatu yang tidak baik atau halal karena hal tersebut bisa menyebabkan kita lupa diri. Yaitu lupa kepada kebenaran, lupa kepada tujuan yang ingin kita capai, lupa kepada Alloh SWT.

Ya Alloh, itulah pelajaran bapak yang selalu saya ingat, semoga bisa bermanfaat juga bagi yang lainnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *