Second Chance

Pengalaman memperoleh kesempatan kedua mungkin hanya dimiliki oleh orang orang yang bisa merasakan nikmatnya sakit. Bagi segolongan tertentu yang berkali kali mengalami sakit dan sembuh mungkin tidak begitu merasakan kehadiran kesempatan kedua ini.

Sedari lahir dan setelah memiliki kemampuan mengingat, saya benar – benar belum merasakan sakit yang seolah menyadarkanku pada adanya kesempatan kedua. Alhamdulillah sedari SD, SMP, SMA dan sekarang bekerja, pengalaman sakit yang kualami hanyalah sakit seperti biasa, batuk atau demam. Lebih banyak justru saya menunggui orang sakit baik kedua orang tua maupun para kerabat dan handai tolan. Namun baru sekali inilah saya mengalami sakit yang lain. Tenaga hilang secara berangsur-angsur dengan cepat seperti berkurangnya napas yang saya hirup. Jantung berdebar lebih keras dan cepat dan kemudian jari-jari tangan kesemutan yang merambat hingga lengan. Pandangan berkurang, seolah hanya warna kuning yang dominan. Pendeknya hari dan jam itulah kehidupan ini bagi saya akan berakhir.

Pada saat ketidakberdayaan menguasai hati dan pikiran saya, maka segala ketakutan menghampiri dan keburukan yang pernah dilakukan seolah dihamparkan dihadapan saya. Untuk itulah perasaan ini semakin menciut dalam ketidakberdayaan. Hanya berharap maaf dari para sahabat agar berkurang beban yang kurasakan.

guci-pecah

Hasil laboratorium dan pemeriksaan dokter tidak menunjukkan adanya penyakit serius. Hal itu tentunya lebih membuat hati saya gundah gulana. Bahkan hal tersebut diperoleh hasil yang sama dari dua rumah sakit dan dokter yang berbeda. Maka introspeksi saya mungkin sakit ini adalah buah dari perilaku dan tindak tanduk saya. Untuk itu tak lupa saya mohon maaf kepada semua kawan dan handai tolan atas segala kesalahan dan dosa saya. Sejujurnya saya tidak memiliki prasangka dan pemikiran benci kepada semuanya. Apabila memang saya bertutur kata yang kurang pas dan bertingkah laku yang menyakiti, sesungguhnya hanya sebatas tuntutan kerja atau gurauan yang kadang kurang kontrol, sehingga mohon untuk dimaafkan.

Terima kasih saya ucapkan kepada semua sahabat dan saudara yang telah ikhlas memaafkan segala kesalahan saya baik yang disengaja maupun karena kekhilafan saya. Hanya kepada-Mu lah sebaik – baik tempat kembali. Dan semua yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Ya Alloh SWT semoga Engkau mudahkan segala urusan saya dan mengampuni semua dosa-dosa saya. Ya Alloh bilakah kehidupan saya kurang mendatangkan manfaat bagi yang lain cukupkanlah hingga detik ini, dan bilakah bermanfaat maka panjangkahlah, dan Engkau Maha Mengetahui, Amin.

Bercermin

Saat kutatap wajahku di cermin kamarku, kudapati diriku berdiri sendiri dalam gelap. Padahal tak kupadamkan lampu kamar ketika aku terbangun dari tidur dipagi ini. Lama kupandangi aku mulai menemukan sederet tapak langkahku yang telah lalu. Kenangan yang kulihat silih berganti membuat diriku beberapa kali mendesah sedih. Ternyata lebih banyak palsuku disana, pantas banyak komentar miring mulai menerpa diriku. Namun bagaimana aku bisa mengembalikan masa lalu itu. Aku pun menangisi diriku. Setitik air mata demi setitik air mata kulihat mengalir di pipiku yang telah mulai berkerut menua. Aku tak ingin dihari hari perpisahanku nanti akan banyak meninggalkan kenangan dusta, atau cerita buruk tentang diriku. Apakah kepalsuan pada diriku ini mereka juga melihatnya sehingga gunjingan dibelakangku sampai sayup sayup terbawa angin ke telingaku ?

Aku melihat pada anakku. Ada perasaan lebih sedih saat itu. Bagaimana anak-anakku dapat menerima semuanya tanpa harus membebani kehidupannya ? Dengan kasih sayangku selalu kutegur mereka bila melakukan hal buruk. Bahkan aku masih teringat tidak hanya untuk anakku. Banyak nasihat kuberikan kepada kawan kawanku bila memang bisa kuberikan. Tapi mengapa mereka tidak mau menasihatiku bila aku melakukan kesalahan ? Sehingga setelah menggunung baru pergunjingan ini aku dengar. Tak adakah yang menyayangiku sehingga membiarkanku berbuat salah.

download

Aku melihat ke arah cerminku dan aku melihat bayangan lampu di kamarku. Hey… bukankah tadi gelap, sekarang lampu itu mulai nampak dan semakin terang. Dan aku melihat diriku. Bayangan gelap diriku mulai berubah. Mulai menampilkan warnanya, warna kain baju dan sarung yang kukenakan. Apakah makna lampu itu bagiku ?

Aku terus mencari dan mencari. Namun tak kutemukan meski telah kutengok kedalam isi hatiku sendiri. Begitu gelapnya hati ini sehingga aku tak dapat menemukan apapun disana. Kembali aku menitikkan air mata kesedihan. Di hari hari tua ku ini mengapa baru aku melihat diriku yang gelap. Sehingga untuk melihat diriku sendiri aku tak bisa. Aku hanya bisa melihat diriku dari omongan miring sahabat dan kawan-kawanku. Begitu buruknyakah diriku untuk mereka ?

Segera kutangkupkan kedua telapak tanganku diwajahku. Aku tak ingin melihat diriku bercermin lagi. Namun langkah masa lalu itu seolah tak mau berhenti berjalan dalam anganku. Dan aku makin sedih dalam keterpurukan di masa tuaku ini. Ketika rambut telah memutih baru kusadari bahwa begitu buruknya diriku.

Kawan, maafkan aku yang tak pernah bisa menyenangkan dirimu. Maafkan aku yang tak bisa memenuhi semua keinginanmu. Maafkan aku yang telah menyakiti dirimu melalui mulutku, melalui tingkah lakuku, melalui tanganku, dan melalui semua yang pernah kulakukan. Mungkin inilah pembalasan untukku menyambut putihnya rambutku dan mengeriputnya kulitku.

Bila kesalahan kerja aku bisa langsung ditegur oleh atasanku walau dengan teguran yang paling keras sekalipun. Aku pernah mengalaminya dan aku justru berterima kasih untuk itu, karena selanjutnya aku mengetahui kesalahanku. Bila denganmu kawan, mengapa engkau diam dan lebih senang membiarkanku terpuruk dalam kesalahan dan dosaku.

Terima kasih cermin telah menyadarkanku. Cobalah selalu menatap dirimu lama di cermin, dan kau akan menemukan dirimu yang lain.

 

Keuntungan Bisnis

Siapa yang tak ingin memiliki usaha (bisnis) meskipun kita sudah bekerja sekalipun. Bisnis merupakan naluri yang dimiliki oleh semua orang, hanya saja bagaimana menangkap peluang yang ada agar menjadi bisnis yang menjanjikan, mungkin  tidak semua orang mampu melakukannya.

Hitungan bisnis sederhana harga jual – harga perolehan haruslah positif. Bagaimana kalau negatif ? Itulah mungkin yang kebanyakan orang mendefinisikannya sebagai bisnis yang merugi. Lalu bagaimana agar positif ? Mudah saja jual produk kita diatas harga beli. Ribuan trik agar harga jual mampu mencapai diatas harga beli. Lho bukankah sederhana ? Tinggal pasang bandrol saja harga jual diatas harga beli, selesai.

Jual-Beli-upload

Mungkin tidak semudah itu membandrol harga, disinilah seni ekonomi berperan. Harga jual yang kita bandrol diatas harga beli secara semena – mena bukanlah jalan yang selalu dibenarkan, dalam arti kalau kita menghendaki keuntungan dalam bisnis agar positif. Karena kadang ketika membandrol harga kita harus mampu menganalisa harga yang kita tetapkan. Kadang bahkan harus melirik kanan kiri produk serupa atau produk substitusi. Melirik juga kebiasaan masyarakat sekitar terhadap produk yang kita jual. Melirik juga kebijakan pemerintah yang mengatur produk yang kita jual. Analisa yang dilakukan secara jeli tersebut semata – mata hanya untuk memperoleh keuntungan bisnis. Bahkan sebagian orang harus belajar hingga S1, S2 atau S3 untuk mendukung usahanya. Untuk sebuah perusahaan bonafid bahkan mempekerjakan satu batalyon analis bisnis agar usahanya tak merugi.

Buat usaha warungan, rumus dan analisa sederhana diawal cerita lebih banyak diterapkan. Hidup tidak serumit itu, bahkan termasuk untuk mengelola usaha sekalipun. Kadang terlalu protektif terhadap keuntungan bisnis, menjadikan kita susah memperoleh keuntungan. Cost menjadi terlalu besar hanya untuk pekerjaan analisa. Jadi bagaimana sebaiknya ?

Saya sempat membaca sebuah cerita di jaman nabi, bahkan cerita bisnis yang dikelola pada saat itu. Perhitungannya sederhana dan tidak membutuhkan perhitungan menggunakan super computer seperti sekarang ini, atau bahkan satu batalyon analis usaha. Bagaimana Usman bin Affan sukses menjalankan usahanya patut menjadi inspirasi bagi kita semua.

Keuntungan bisnis bagi Beliau selalu diukur dalam parameter keuntungan di akhirat. Dan luar biasa hasilnya, bahkan kerajaan Arab Saudi hingga kini masih mengelola bisnis yang dirintis oleh Beliau. Perusahaan yang diwakafkan ke negara dikelola dengan baik, keuntungan selalu dibagikan untuk menafkahi hidup fakir miskin hingga kini dan sebagian dikelola untuk memperbesar usahanya. Ya kunci usaha yang dirintis oleh beliau adalah PAHALA.

Jadi manakala kita berbisnis, niatkanlah usaha itu untuk memperoleh pahala. Keuntungan dalam wujud kelebihan hitungan harga beli dijadikannya modal untuk memperbesar PAHALA. Manakala harga jual tidaklah bagus dan bahkan harus diturunkan hingga nol, asalkan masih positif dalam PAHALA, percayalah bahwa usaha kita tidak akan gulung tikar dan kita menjadi bangkrut karenanya. Teknik inilah yang dalam ekonomi modern dinamakan biaya promosi. Pemberian sample produk agar pelanggan percaya, sudah dilakukan secara alami oleh pelaku bisnis dijaman nabi. Bahkan untuk mendapatkan kepercayaan konsumen, tidak sedikit pebisnis memberikan jasa layanan tambahan yang begitu besar tanpa biaya sekalipun. Dan rumus itulah yang seyogyanya diterapkan dalam usaha agar kita memperoleh keuntungan bisnis. Perlu dicatat disini bahwa keuntungan bisnis tidaklah harus selalu berwujud kelebihan pembayaran harga jual dari harga beli, namun menghidupi sejumlah karyawan atau membuat orang lain bahagia menggunakan produk kita, mungkin itulah salah satu wujud keuntungan bisnis. Bagaimana dengan bisnis / usahamu ???

 

 

Mimpi 3

Hujan turun rintik – rintik pada siang hari yang cerah, namun petir menggelegar menakutkan siapa saja yang tengah asyik menekuni layar komputer di gedung pusat pelayanan ST3 Telkom Purwokerto. Nampak segerombolan mahasiswa dan mahasiswi berebut masuk ke ruang pelayanan. Mungkin ingin berlindung dari petir yang menakutinya. Meskipun demikian, petugas customer service secara reflek berdiri dan mulai mengembangkan senyum ramahnya. Petir sesaat hilang pengaruhnya ketika senyuman itu terkembang. Ada rasa sejuk dan nyaman bagi siapa saja yang dihadapannya. Apalagi kemudian suara merdunya menyambut para mahasiswa.

“Selamat siang, dengan saya Ati, ada yang dapat kami bantu ?”

Sebentar para mahasiswa tersebut nampak saling pandang. Terlihat bahwa sorot mata mereka tengah melakukan voting, karena lima pasang mata dari enam pasang mata nampak menatap tajam ke satu orang teman mereka.

“Okey – okey saya yang nanya ” gerutu mahasiswa yang divonis untuk mewakili mereka.

“Begini mba, emmpp…”mahasiswa tersebut memulai pertanyaannya setelah melangkah maju lebih dekat.

“Silakan duduk terlebih dahulu, dan mohon untuk mengisi form berikut ” ucap mba Ati antusias seraya menyodorkan sebuah pc tablet yang telah menampilkan sebuah formulir.

Mahasiswa itu kemudian duduk dan mulai sibuk mengisi formulir yang diterimanya. Sementara teman – teman mereka kemudian memilih deretan kursi tunggu disamping kanan mereka.

“Sudah mba ”

“Terima kasih, permasalahan kaliah telah kami sampaikan kepada pihak yang menanginya langsung. Kebetulan petugasnya tengah berada di luar kota. Untuk itu kalian diminta menghadap petugas secara virtual. Silakan kalian masuk ke ruang satu untuk membahas masalah tersebut lebih lanjut. Adakah layanan lain yang ingin disampaikan ?”

“Terima kasih mba, itu dulu saja ”

Mahasiswa tersebut kemudian berdiri dan memanggil teman – temannya untuk masuk ke ruang satu yang berada disisi kiri ruang pelayanan. Belum juga mereka menyentuh handle pintu, nampak pintu telah terbuka, dan seorang wanita yang mengenakan seragam customer service nampak menyambut mereka.

“Selamat siang, silakan masuk dan duduk pada kursi paling depan ” ucapnya seraya mengembangkan senyum ramahnya. “Kami akan langsung menghubungkan dengan Supervisor Kemahasiswaan dalam 1 menit”

Ruang konferensi yang mereka masuki nampak anggun dan klasik. Sebagian perabot terbuat dari bahan kayu yang bagus, serta karpet merah menutup seluruh lantai. Di bagian atas nampak sebuah proyektor yang telah menyala dan memancarkan cahaya proyeksinya ke layar dihadapannya. Lampu di ruangan cukup banyak, namun yang menyala beberapa lampu saja yang cukup redup.

Sementara sebuah suara dari sounds system terdengar empuk mempersilakan setiap mahasiswa untuk mengenakan headset  yang tersedia di kursi masing – masing.

Proses koneksi tersambung, dan di layar nampak Supervisor Kemahasiswaan tampil. Backgroundnya cukup jelas menggambarkan bahwa beliau tengah duduk pada sebuah kursi di sebuah kereta api.

“Halo semuanya, selamat siang ?” terdengar sahutan dari layar.

Serempak mahasiswa tersebut membalas salam. Dan Supervisor Kemahasiswaan terdengar melanjutkan ucapannya.

“Saya sudah membaca keluhan kalian, dan secara prinsip untuk pelaksanaan PKL yang menyeberang pada agenda perkuliahan dapat disetujui. Saya sudah berkoordinasi dengan pihak BAAK serta dosen wali kalian barusan. Surat dispensasi sudah dipersiapkan di meja resepsionis dan bisa diambil setelah ini. Apakah ada yang ingin disampaikan lagi ?”

“Ada pak…” ucap pimpinan perwakilan.

“Silakan, mengenai apa ?”

“Kami mohon dukungan dari institusi untuk masalah transportasinya pak. Karena perusahaan tempat PKL mewajibkan kami memiliki transportasi sendiri, ini bagaimana ya pak ?”

“Baik, saya tidak bisa memutuskan masalah tersebut, namun saat ini langsung saya hubungi bagian logistiknya. ”

konfrensi

Dan benar saja saat itu pula tampilan layar berubah. Gambarnya terbagi menjadi dua, satu masih menampilkan supervisor kemahasiswaan dan satunya nampak pak Putra selaku supervisor logistik. Background tampilan yang kedua terlihat beliau duduk di ruang kantornya. Begitu tersambung nampak supervisor logistik dengan cepat mengucapkan salam.

“Bagaimana ini, apa yang kalian inginkan ?” tanyanya lebih lanjut.

Setelah diskusi lebih jauh, supervisor logistik memberikan solusi yang bisa diterima oleh kedua belah pihak. Dan konverensi pun selesai. Mereka nampak puas dengan pelayanan yang diberikan pihak kampus yang memang sarat dengan teknologi telematika. Dan yang pasti saat itu juga permasalahan clear.

Pendidikan Moral

Saya masih ingat 35 tahun yang lalu saat masih sekolah dasar ada sebuah mata pelajaran namanya Pendidikan Moral Pancasila. Bahkan mata pelajaran tersebut berlanjut hingga SMP bahkan SMA. Meski kemudian nama mata pelajaran tersebut berganti menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.

Ada yang hilang dalam kurikulum pendidikan nasional menurut hemat saya. Ya, berkurangnya pendidikan moral. Mungkin inilah yang kemudian menyebabkan penurunan secara signifikan moralitas bangsa kita. Meski tidak sedikit banyak penyelenggara pendidikan khususnya yang berlatar belakang keagamaan mencoba menjadi solusi kekurangan tersebut, namun secara umum terlalu minim. Bahkan segala upaya yang bercampur aduk untuk mengentaskan masalah moral menjadi sia-sia. Bagaimana mungkin memperbaiki moralitas apabila dua hal yang bertolak belakang selalu hadir dihadapan kita. Contoh kasus sederhana masalah seragam sekolah, bagi sekolah tertentu menetapkan untuk seragam putri penggunaan rok harus dibawah lutut, sementara sekolah lain tidak mempermasalahkan meski diatas lutut. Apabila dua siswi berbeda naik kendaraan umum bersama, tentu ada pandangan rancu bagi setiap orang yang melihatnya. Contoh lain bahwa di kota tertentu dilarang masalah minumum beralkohol namun di kota lain bahkan diberikan aturan penjualan dan penggunaannya. Bila dua orang  yang berasal dari dua kota tersebut bertemu tentu akan terjadi kerancuan pandangan. Moralitas yang dibangun disatu sisi akan hancur oleh sisi yang lain.

Untuk itu perlunya pendidikan moral secara menyeluruh, bila perlu dibuatkan SNI-nya (Standard Nasional Indonesia) terhadap moralitas masyarakat Indonesia. Beranikah pemerintah memberlakukan uji moralitas bagi masyarakat yang menghendaki layanan tertentu kepada pemerintah ? Meski kondisi dewasa ini sebagian sudah inline terhadap masalah tersebut. Sebut saja, untuk memperoleh Surat Ijin Mengemudi (SIM), saya melihat konten test sebagian telah mengusung masalah moralitas meski dibatasi pada masalah berlalulintas.

Sudah saatnya pendidikan nasional mempertimbangkan perubahan kurikulum dan sistem pendidikan, agar Indonesia bisa tampil berbeda. Misal pendidikan dasar secara kurikulum ditekankan pada pendidikan moral setelah itu barulah pendidikan keilmuan mulai dikembangkan, disamping memang sudah sinergi dengan perkembangan fungsi otaknya. Meski pendidikan meningkat namun kontrol terhadap pengembangan moral ditingkat pendidikan lanjut harus tetap disinkronkan. Dan pada tingkat pendidikan tinggi diberikan satu semester khusus untuk pengulangan pendidikan moral. Mungkin akan sangat mengena apabila penentuan kelulusan siswa didasarkan atas uji moralitasnya.

 

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya

Peribahasa yang satu ini menggambarkan bahwa sesuatu itu tidaklah akan jauh jauh dari induk atau sumber utamanya. Bahkan secara sarkasme terkadang digunakan untuk menuduh seseorang yang berlaku salah dikarenakan orang tuanya juga memeliki latar belakang yang mendukungnya. Misal si polan kedapatan mencopet, setelah tertangkap kemudian ditelusuri siapa orang tuanya, dan kebetulan orang tuanya memiliki sejarah yang mendukung perbuatan si polan, yaitu pernah tertangkap tangan saat mencuri, untuk itu peribahasa itu dikenakan pada si polan.

buah_apel

Benarkah memang demikian ?

Menelusuri lebih jauh memang sangatlah tepat apabila kita sedari kecil atau tiap saat bergaul dengan suatu kondisi lingkungan sosial dan budaya, maka karakter kita seperti peribahasa di atas sedikit banyak akan terpengaruh oleh lingkungan dan budaya dimana kita berada. Untuk itulah Rosulullah SAW mengajarkan kepada kita agar baik – baik dalam merawat dan membesarkan anak-anak kita. Bahkan dalam kesempatan lain Beliau mengatakan “orang tuanyalah yang akan menjadikan anak – anaknya itu bahkan menjadi seorang majusi”. Mungkin itu pulalah mengapa kisah – kisah nabi mengajarkan bahwa dimasa kecil para nabi telah diatur oleh Alloh SWT untuk terpisah dari lingkungan dan budaya masyarakat yang ada pada saat itu. Sehingga mereka terisolir dari pengaruh budaya yang ada, kemudian setelah siap mereka tampil membawa babak dan berita baru.

Namun bila dikaitkan dengan sifat Sang Maha Kuasa, bahwa segala sesuatu itu ada dalam kehendak-Nya, maka bisa jadi peribahasa di atas perlu di kritik sebagai peribahasa “penghakiman”.  Untuk itulah dalam beberapa media sering kita baca fakta – fakta bahwa peribahasa di atas belum tentu benar. Seperti berita berikut “seorang anak tukang becak lulus Doktor dengan predikat cumlaude”.

Apabila kita melihat rukun iman kita bahwa kita haruslah percaya pada Qodlo dan Qadar Alloh, maka semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi dan tidak menjadi. Dan memang sudah tidak semestinya kita memberikan penghakiman terhadap latar belakang orangtuanya atau lingkungannya. Karena meski intan itu direndam dalam lumpur tetaplah intan.

 

Melik Sethithik Nggendong Lali

Dua tahun yang lalu tepatnya tanggal 26 Januari 2014 merupakan kenangan saya yang tak terlupakan. Hari itu minggu  kliwon merupakan minggu keluarga besar orang tua saya untuk menyelenggarakan silaturahmi rutin bulanan. Kebetulan saya sendiri sekeluarga tidak bisa ikut meski “giliran” tempat pelaksanaannya sesungguhnya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 200 m.

Seperti biasa bapak saya berangkat lebih awal dari anggota lainnya, ini merupakan pelajaran rutin yang ditunjukkan beliau kepada kami. Pandangan beliau adalah ingin bersalaman dengan semua anggota ketika datang. Saat itu beliau ceria menyambut anggota keluarga yang datang setelahnya. Senyum lebar mengembang ketika tangannya terulur menyambut jabatan hangat dari sanak keluarga. Dan acara bergulir hingga penghujung acara yaitu makan bersama sebelum kemudian berakhir.

Ada sendau gurau renyah yang masih saya ingat.

“Bagaimana kondisi jantungnya mbah ?” tanya mas Paridin ditengah-tengah kesibukkan beliau menyendok opor ayam di piringnya.

“Saya dengar dokter jantungnya di Margono sudah pindah lho ” lanjut beliau.

Bapak saya terlihat membungkukkan badannya ke arah mas Paridin.

“Sudah sehat total, besok saya sudah tidak perlu lagi minum obat jantung ” jawab bapak saya disusul ketawanya yang renyah.

Dan acara pun selesai dengan diakhir acara kembali bersalaman. Bapak saya terlihat gembira tiap saat menjabat tanggan anggota keluarganya. Jabatannya kencang dan sedikit lebih lama seraya memohon maaf apabila terdapat kesalahan beliau. Semua merasa berkesan ketika berjabat tangan dengan bapak.

Mungkin sudah ada yang dirasakan, sehabis sholat dhuhur bersama keluarga  beliau kemudian pulang dan tidur. Hingga kemudian adzan ashar berkumandang dari masjid samping rumah. Suaranya membangunkan bapak. Beliau langsung bergegas mengambil handuk untuk mandi sebelum berangkat ke masjid. Beberapa minggu terakhir biasa bapak yang mengumandangkan adzan dan bahkan merangkap menjadi imam. Karena memang untuk masjid samping rumah pada sore hari khususnya sholat Ashar jarang ada muadzin maupun imam yang bertugas, mungkin kesibukan bekerja.

Namun sore itu agak lama bapak berada di kamar mandi. Dan tiba – tiba kakak saya mendengar bapak beristighfar berkali – kali di dalam kamar mandi. Kakak pun cemas, berkali – kali dicoba memanggil bapak namun yang terdengar hanya istighfar. Sehingga kakak saya mencoba masuk ke kamar mandi melalui atap. Dan terlihat bapak terduduk dilantai kamar mandi dengan kondisi lemas.

26 Januari 2014 jam 17.00 di rumah sakit Geriatri beliau meninggal dunia.

SAMSUNG DIGIMAX A403
SAMSUNG DIGIMAX A403

Satu pelajaran yang sering beliau sampaikan kepada kami dan berulang pada setiap kesempatan adalah agar kami jangan sampai “Melik Sethihik Nggendong Lali”.

Bagi kebanyakan anak sekarang pasti akan sangat asing dengan istilah semacam itu. Bahasa jawa memang terlihat lebih susah dibandingkan dengan bahasa inggris untuk anak – anak sekarang. Kenapa bisa demikian ? Mungkin semua aspek lebih menonjolkan bahasa inggris dibandingkan bahasa jawa, sehingga seperti tersihir semua anak – anak sekarang lupa akan bahasanya sendiri.

Melik = Ingin memiliki

Sethithik = sedikit

Nggendong = menanggung beban di pundak atau menyebabkan

Lali = lupa diri

Maknanya secara umum jangan lah kita berhasrat atau berkeinginan barang sedikitpun kepada sesuatu yang tidak baik atau halal karena hal tersebut bisa menyebabkan kita lupa diri. Yaitu lupa kepada kebenaran, lupa kepada tujuan yang ingin kita capai, lupa kepada Alloh SWT.

Ya Alloh, itulah pelajaran bapak yang selalu saya ingat, semoga bisa bermanfaat juga bagi yang lainnya.

 

Strategi Memenangkan Masa Depan

Pada tahun 1942 Jepang mulai mencoba menanamkan pengaruhnya di dunia internasional melalui kekuatan militernya. Hal tersebut sesungguhnya karena tantangan dari dunia luar yaitu munculnya blok Barat yang dimotori oleh Amerika dalam mencengkeram dunia.

Kekuatan Jepang sempat menggetarkan lawan-lawan perangnya hanya dalam waktu 3 tahun, hampir separuh belahan dunia dikuasai Jepang. Hal ini tidak lepas dari semangat tempur para prajurit Jepang yang luar biasa. Ketaatan kepada pimpinan serta penguasaan teknologi menjadi dukungan utama militer Jepang bahkan tinggal selangkah lagi menyentuh daratan Amerika. Peristiwa besar yang dikenang oleh kedua bangsa yang berseteru yaitu perang Pearl Habour dimana Jepang dengan gigih meraih pijakannya di pulau Hawai untuk segera bisa menginvasi Amerika.

images

Ketakutan warga Amerika akan serangan Jepang ditanggapi oleh pemerintah Amerika dengan keputusan untuk segera mengakhiri dominasi militer Jepang meski secara kemanusiaan jelas merupakan pengingkaran terhadap nilai – nilai kemanusian, dimana serangan yang ditujukan kepada rakyat sipil secara masal untuk menteror pemerintah Jepang. Dan bom Atom pun dijatuhkan di dua kota Nagasaki dan Hiroshima. Ribuan rakyat sipil dalam seketika tewas terpanggang.

Beruntung kaisar Hirohito saat itu begitu mencintai rakyatnya, dia pun segera mengambil keputusan strategis demi melindungi rakyat dari akibat perang yang membabi buta. Keputusan menyerah kaisar bukan tanpa pemikiran dan rencana, mengalah untuk menang.

Dikumpulkannya pasukan berani mati Jepang dan dipaparkan planning Jepang di masa depan agar pasukan berani mati Jepang memahami keputusan pemerintah. Seleksi terhadap para pejuang kemajuan Jepang pun dilakukan. Tentara – tentara Jepang yang memiliki kecerdasan masing – masing mulai diberangkatkan keseluruh penjuru dunia untuk belajar mengejar penguasan ilmu dan teknologi. Semangat juang dan setia terhadap negara adalah modal yang diberikan oleh pemerintah kepada pasukan pendidikan yang diberangkatkan.

Alhasil hanya dalam kurun waktu 15 tahun Jepang dapat mengejar ketertinggalan teknologinya dan negaranya kemudian merajai pasar teknologi diseluruh dunia. Pasukan pendidikan yang dikerahkan oleh Kaisar Hirohito sebagai sebuah planning besar yang luar biasa berhasil merubah Jepang menjadi negara industri dan raksasa ekonomi.

Apabila di tahun 1940 an Jepang tidak berhasil menginvasi Amerika secara militer, kini sebagian besar daratan di Hawai secara ekonomi dikuasai oleh Jepang, hotel dan industri sebagian besar saham dikuasai oleh orang – orang Jepang. Bahkan planning perang ekonomi dan teknologi yang diusung oleh Kaisar Hirohito di tahun 1940 an kini mulai membuahkan hasil. Kekuatan ekonomi Jepang mampu untuk menggerakan seluruh aspek negaranya, sehingga untuk tampil kembali dalam kancah militer internasional Jepang telah sangat siap.

Kekuatan ekonomi Jepang dapat kita lihat bagaimana Jepang mampu memperbaiki kerusakan sebagian wilayahnya yang terkena bencana besar tsunami dengan sangat cepat dan mandiri.

Kehebatan Jepang menginspirasi berbagai negara untuk ikut tampil dalam memajukan negaranya. Negara besar dunia seperti Cina bahkan kini mampu menjadi penyeimbang kekuatan Barat dalam segala hal baik ekonomi maupun militer. Strategi pemimpin besar komunis Cina hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh Kaisar Hirohito. Dikerahkannya pasukan militer untuk menjadi pahlawan pendidikan, pahlawan industri dan pahalawan ekonomi membuahkan hasil yang luar biasa.

109342_ilustrasi-produk-china_641_452

Industri Cina menggemparkan seluruh dunia, siapa sih yang tak mengenal barang – barang “made in cina” ? Mungkin barang – barang tersebut tidak akan mampu bersaing dengan produk bermutu dari negara – negara industri maju pada awal pemasarannya, tapi jangan lupa bahwa pemerintah Cina telah menerapkan strategi pemasaran global yang tidak mampu dimiliki oleh negara negara lain. Strategi infiltrasi dan pemodalan kepada warga negaranya agar menjadi agen pemasaran diseluruh dunia telah dilakukan dengan baik pada awal tahun 1960 an sehingga sekarang saat yang tepat untuk meraih kemenangan.

Nah, bagaimana dengan kita ?

Di era pemerintahan orde lama, pemerintah Soekarno telah mengirim mahasiswa – mahasiswa jenius keberbagai belahan dunia, hanya sayang bahwa planning memenangkan masa depan tidak dikawal secara kenegaraan, sehingga ketika terjadi suksesi yang kurang baik sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan planning yang ada. Bagaimanakah dengan pemerintahan sekarang ?  Tidak beranikah mengikuti pemerintah Cina yang mengalihkan kekuatan militernya untuk menyulap industri rakyat menjadi industri maju ?

 

Budaya Intelektual

Sobat sekalian, sering kita jumpai di kampus kampus di Indonesia melupakan dirinya sebagai salah satu komunitas intelektual. Sebagai contoh adalah kegiatan perploncoan dalam penyambutan mahasiswa baru dan maraknya perlakuan ‘bullying’ dengan alasan ulang tahun misalnya.

Kadang saya merasa kasihan melihat kelakuan sebagian kaum intelektual tersebut karena sekarang telah menjadi tradisi yang entah diakui atau tidak dilakukan secara turun menurun bahkan berkembang ke lapisan pendidikan menengah.

Coba perhatikan, seseorang diikat disalah satu tiang, dan rame-rame yang lain melumuri dengan lumpur atau telur. Ada sorakan gembira atas perlakuan yang kadang menurut saya itu tidak pantas dan etis dilakukan oleh kaum intelektual.

Banyak sesungguhnya budaya intelektual yang lebih elegan dilakukan ketimbang tindakan ‘bullying’. Bisa dengan pemberian bunga atau menampilkan profilnya pada setiap media yang tersedia. Untuk lebih berkesan bisa saja hal itu dilakukan secara formal dengan penyambutan.

Mungkin pihak pengelola perlu memberikan pijakan agar buday intelektual itu bisa dimulai dari kampus kita. ‘STOP BULLYING’ dan memfasilitasi pemberian ucapan selamat misalnya. Semoga budaya intelektual bisa bermartabat di kampus kampus dan sekolah di tanah air kita.

Kecerdasan Sosial

Dalam kehidupan memasuki abad modern seperti sekarang ini kepedulian sosial mulai luntur dan ditinggalkan. Sering kita mendengar kasus kecelakaan namun tak satupun orang mencoba menolongnya seketika. Masih ada yang peduli namun hal tersebut sudah sangat terlambat, sehingga resiko lebih besar harus diterima. Atau kadang kita jumpai orang – orang kelaparan di pinggir jalan yang mengais sampah dan sisa makanan dan tak satupun dari kita yang mencoba mengulurkan satu nasi bungkus.

Kepedulian sosial yang dilatarbelakangi dengan kemampuan berpikir manusia dalam menanggapi keadaan sosial disekitar kita, bisa dikatakan sebagai ‘kecerdasan sosial’. Jadi dalam melaksanakan kepedulian sosial yang kita miliki dengan kerangka berpikir logis dan positif itulah kecerdasan sosial.

Saya sering bahkan setiap hari, ketika mengendarai sepeda motor mencoba untuk peduli dengan pengendara lainnya. Kepedulian yang saya lakukan tentunya saya pertimbangkan dengan kondisi atau posisi diri sendiri di jalan, apakah kepedulian kita justru akan membahayakan diri kita sendiri atau tidak. Namun lepas dari resiko positif dan negatif, kepedulian sosial yang dibarengi dengan kerangka berpikir untuk mensukseskan kepedulian sosial yang kita miliki bisa dianggap kecerdasan sosial seseorang. Namun kecerdasan sosial tidak dapat dijadikan alasan bagi kita untuk kemudian menumpulkan rasa kepedulian sosial yang seharusnya kita bangun.

Kadang terjadi pencampuradukan antara emosi sosial dan kecerdasan sosial. Bagaimana seseorang kelompok minoritas misalnya dalam menanggapi penganiayaan mayoritas terhadap kelompok minoritasnya yang kemudian tanpa dilatarbelakangi kerangka berpikir logis dan positif melakukan tindakan, itulah contoh emosi sosial. Akan berbeda dengan tindakan yang diambil sebagai wujud kepedulian sosial namun dilatarbelakangi dengan pemikiran logis dan positif, misal adalah menyelamatkan korban dan membawa kasus penganiayaan kepada ranah hukum agar dapat diselesaikan secara prosedural dan adil, itulah tindakan dari kecerdasan sosial. Ketimbang mendahulukan emosi sosial dengan melakukan tindakan yang dapat berdampak luas terhadap kondisi sosial sekarang dan masa depan.

Sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE